OngoingSub sub100
Tsui no Hito
Orang di Pengujung Hidup
49 views 2026 TBSTotal 10 episode
1 (4 rating)
Sinopsis
Berdasarkan manga dengan judul yang sama karya Shimizu Shun, cerita dimulai ketika Shie Sousuke, seorang pengurus jenazah veteran dengan penampilan yang tampak kasar, bertemu dengan Soyogi Kotaro, seorang karyawan perusahaan elit yang telah kehilangan jati dirinya setelah terlalu larut dalam pekerjaan.
Pertemuan mereka dipicu oleh kematian mendadak ibu Soyogi. Saat Shie dan Soyogi – pasangan mentor dan murid yang tidak terduga dan sangat berbeda – menghadapi setiap kematian dan keluarga yang berduka dengan tulus, serial ini berkembang menjadi refleksi tentang keluarga, kesepian, penuaan, kehilangan, dan pembaharuan dalam masyarakat modern.
Pemeran
Daftar Episode (2)
Ep 1
Ep 2
Sinopsis Tiap Episode
Episode 1
Tayang di Jepang: 13 Januari 2026
Sosuke Shie adalah seorang pengurus pemakaman berpengalaman dengan penampilan nyentrik dan cara bicara yang tajam. Ketika menjalani pemeriksaan di rumah sakit, ia mendapat kabar bahwa dirinya mengidap kanker stadium empat dan diperkirakan hanya memiliki waktu enam bulan untuk hidup. Namun, Shie menerima kenyataan tersebut dengan sikap tenang dan tetap menjalankan pekerjaannya.
Di rumah sakit yang sama, Kotaro Soyogi bekerja sebagai tenaga penjualan perusahaan alat kesehatan. Setiap hari ia berusaha mengambil hati para dokter agar produk perusahaannya digunakan. Tekanan pekerjaan dan target penjualan membuat Kotaro kelelahan serta kehilangan arah hidup.
Saat beristirahat di bangku rumah sakit, Kotaro bertemu seorang pria berpakaian olahraga yang sedang merokok. Kotaro menegurnya, tetapi pria itu justru membalas dengan kata-kata menusuk, mengatakan bahwa wajah Kotaro terlihat lebih tidak bersemangat daripada orang yang baru menerima vonis sisa hidup. Ucapan tersebut membuat Kotaro tersinggung, tetapi juga menyadarkannya bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar pengakuan orang lain.
Pada malam yang sama, Kotaro menerima kabar mengejutkan bahwa ibunya meninggal dunia akibat kanker. Belum sempat menerima kehilangan tersebut, Kotaro harus mengurus pemakaman sang ibu. Rumah sakit kemudian memperkenalkan seorang pengurus pemakaman kepadanya.
Kotaro terkejut ketika mengetahui pengurus pemakaman itu adalah Sosuke Shie—pria yang sebelumnya menegurnya dengan kata-kata tajam.
Meski bersikap kasar dan tidak seperti pengurus pemakaman pada umumnya, Shie ternyata sangat memahami perasaan keluarga yang ditinggalkan. Ia berusaha mencari tahu keinginan terakhir ibu Kotaro dan mempersiapkan sebuah perpisahan yang bermakna. Salah satu tradisi yang menjadi pusat cerita adalah honekami, kebiasaan lama menggigit sedikit tulang orang yang telah dikremasi sebagai bentuk kasih sayang serta keinginan untuk tetap dekat dengan mendiang.
Melalui pemakaman ibunya, Kotaro mulai memahami bahwa upacara perpisahan bukan sekadar kewajiban atau rangkaian formalitas. Pemakaman menjadi kesempatan terakhir bagi keluarga untuk menyampaikan cinta, rasa terima kasih, dan hal-hal yang belum sempat mereka ucapkan.
Pertemuannya dengan Shie akhirnya mengubah jalan hidup Kotaro. Tersentuh oleh cara Shie menghadapi kematian dan mendampingi keluarga yang berduka, Kotaro mulai tertarik mempelajari pekerjaan pengurus pemakaman. Episode pertama pun menjadi awal terbentuknya hubungan antara Shie, sang pengurus pemakaman berpengalaman, dan Kotaro yang kelak menjadi murid sekaligus rekannya.
Baca sinopsis lengkap →Episode 2
Setelah mulai bekerja di rumah duka milik Sōsuke Shie, Kōtarō Soyogi—yang biasa dipanggil Bon—menyambut tugas pertamanya dengan penuh semangat. Bersama Shie, ia mendatangi rumah sakit untuk menangani pemakaman seorang perempuan dari keluarga Hirama.
Namun, kedua putra almarhumah, Kazuki dan Yūji, justru menolak bantuan mereka. Mereka menganggap jasa rumah duka tidak lebih dari penipuan yang memanfaatkan keluarga berduka. Berbekal buku panduan pemakaman mandiri, keduanya bersikeras mengurus seluruh prosesi pemakaman ibu mereka sendiri tanpa bantuan tenaga profesional.
Shie memilih mundur dan membiarkan keluarga tersebut menjalankan keputusannya. Akan tetapi, Bon melihat kecemasan pada Tomoyo, istri Yūji. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Bon diam-diam memberikan kartu nama rumah duka kepadanya sebagai jalan keluar apabila mereka membutuhkan pertolongan.
Kekhawatiran Bon segera terbukti. Persiapan yang awalnya dianggap mudah perlahan berubah menjadi kekacauan karena keluarga Hirama tidak memahami cara menangani jenazah dan mengatur pemakaman dengan benar. Ketegangan di antara anggota keluarga pun semakin memuncak hingga mengancam hubungan mereka.
Di tengah keadaan tersebut, terungkap pula ikatan mendalam antara Tomoyo dan mendiang ibu mertuanya. Pemakaman itu akhirnya bukan hanya menjadi perpisahan terakhir, tetapi juga kesempatan bagi keluarga Hirama untuk memahami perasaan almarhumah serta menyadari bahwa sebuah upacara perpisahan tidak semata-mata tentang biaya dan tata cara—melainkan tentang memberikan penghormatan sekaligus membantu mereka yang ditinggalkan menerima kehilangan.Setelah mulai bekerja di rumah duka milik Sōsuke Shie, Kōtarō Soyogi—yang biasa dipanggil Bon—menyambut tugas pertamanya dengan penuh semangat. Bersama Shie, ia mendatangi rumah sakit untuk menangani pemakaman seorang perempuan dari keluarga Hirama.
Namun, kedua putra almarhumah, Kazuki dan Yūji, justru menolak bantuan mereka. Mereka menganggap jasa rumah duka tidak lebih dari penipuan yang memanfaatkan keluarga berduka. Berbekal buku panduan pemakaman mandiri, keduanya bersikeras mengurus seluruh prosesi pemakaman ibu mereka sendiri tanpa bantuan tenaga profesional.
Shie memilih mundur dan membiarkan keluarga tersebut menjalankan keputusannya. Akan tetapi, Bon melihat kecemasan pada Tomoyo, istri Yūji. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Bon diam-diam memberikan kartu nama rumah duka kepadanya sebagai jalan keluar apabila mereka membutuhkan pertolongan.
Kekhawatiran Bon segera terbukti. Persiapan yang awalnya dianggap mudah perlahan berubah menjadi kekacauan karena keluarga Hirama tidak memahami cara menangani jenazah dan mengatur pemakaman dengan benar. Ketegangan di antara anggota keluarga pun semakin memuncak hingga mengancam hubungan mereka.
Di tengah keadaan tersebut, terungkap pula ikatan mendalam antara Tomoyo dan mendiang ibu mertuanya. Pemakaman itu akhirnya bukan hanya menjadi perpisahan terakhir, tetapi juga kesempatan bagi keluarga Hirama untuk memahami perasaan almarhumah serta menyadari bahwa sebuah upacara perpisahan tidak semata-mata tentang biaya dan tata cara—melainkan tentang memberikan penghormatan sekaligus membantu mereka yang ditinggalkan menerima kehilangan.
Baca sinopsis lengkap →
Komentar
Memuat komentar...